Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi Husein Rachmadi (foto:ist)
CIMAHI,-Th,- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi menggelar edukasi Program Kampung Iklim (Proklim), bekerjasama dengan Sektor 21 Citarum Harum, di Aula Dipatiukur, Taman Kehati Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kamis, (27/10/2022)
Acara tersebut dihadiri sekitar 100 peserta yang mengikuti Proklim tersebut, dari setiap Ketua RW kota Cimahi dan pengusaha sebagai pembina Proklim.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, dr R Husein Rachmadi, A.Md, ST, SE, M.Kes. diadakannya Proklim tersebut, tujuannya menerapkan pola hidup kepada masyarakat Kota Cimahi bagaimana cara menyesuaikan dengan iklim,
“Seperti terjadi iklim hujan maupun iklim panas, misalkan dalam iklim hujan bagaimana masyarakat kota Cimahi dapat menangani masalah banjir,” ujar Husein.
Seperti yang dicontohkan oleh Husein, di RW 18 Kelurahan Cipageran, dimana masyarakatnya dapat memanfaatkan sampah 20 ton perhari, diolah jadi makanan maggot,
“Ini sebagai bukti bahwa sampah bukan saja jadi musibah, tapi sampah juga bisa membawa berkah, bahkan sampai saat ini RW 18 Kelurahan Cipageran, meminta kepada kami 20 ton lagi sampah untuk diolah menjadi makanan maggot,”
Diakui oleh Husein, bahwa Proklim ini merupakan program dari Kementerian Lingkungan Hidup, “Dan Proklim ini, program yang sangat penting, mencakup banyak kegiatan, terkait dengan ke LH an, yaitu bagaimana cara menjaga sampah,”
Begitu pula masalah reboisasi, penghijauan, pembibitan, “Jadi sekali lagi bagaimana caranya masalah sampah musibah menjadi berkah, seperti sampah di RW 18 Kelurahan Cipageran, sudah menangani sampah 20 ton perhari,” tukas Husein.
Bahkan kata Husein kembali, di RW 18 Kelurahan Cipageran ada Gerakan Ekonomi, (Germi),
“Itu ada Germi, 04018, di RT 04 RW 18, yang diketuai oleh pak Arif, bagaimana masyarakatnya mencoba untuk memilah sampah, organik dan non organik,” paparnya.
Komandan Sektor (Dan sektor) Citarum Harum 21, Kolonel Infanteri T Bayu Wahyu Murwanto, SE, MH. (foto:ist)
Karena kata Husein masyarakat RT 04 RW 18 Kelurahan Cipageran, mereka sudah mau mengolah sampah, dengan lalat Black Solder Fly (BSF)
“Itu berubah akan menjadi maggot, dan maggot menjadi nilai ekonomi, dari telur dan maggotnya dapat di jual untuk makanan ikan lele,” ucapnya.
Bakan sambung Husein kembali, di RW 18 pengolahan maggot dikembangkan menjadi usaha perikanan ternak lele yang makanannya dari maggot,
“Karena seperti di Kota Bandung ada Maggot Lele, karena nilai jualnya lebih tinggi, daripada lele biasa,”
Sebab perbedaannya antara lele Maggot dengan lele biasa, kalau lele Maggot makannya Maggot, sedangkan lele biasanya makanannya segala di makan
Hal yang sama diungkapkan oleh Komandan Sektor (Dan Sektor 21) Citarum Harum, Kolonel Inf T. Bayu Wahyu Murwanto, SE, MH. Menurutnya, antara Citarum Harum dengan Program Kampung Iklim,(Proklim) merupakan kegiatan yang berkesinambungan,
“Tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, ternyata Proklim diawali dari tahun 2017, Citarum Harum di buat dengan Perpres nomor 15 tahun 2018,” ujar Bayu.
Selanjutnya kata Bayu, dari penjelasan Ade dari staf Lingkungan Hidup dari Provinsi Jawa Barat, “Proklim ini memang arahannya mengantisipasi mitigasi terhadap perubahan iklim yang ada,” tukas Bayu.
Tetapi, sambung Bayu bahwa hal tersebut ada keterkaitannya dengan Citarum Harum, “Melalui Perpres 15 tadi, kemudian melalui Bapak Gubernur sendiri, mem break down dari Citarum Harum menjadi Citarum Juara,” jelasnya.
Seperti di Kota-kota apa yang menjadi Icon untuk keberhasilan suatu Kota, “Seperti di Cimahi ada Icon yang terkenal dengan nama Taman Kehati, yang juga menjadikan Ruang Tata Hijau (RTH) untuk masyarakat disekitaran Kota Cimahi, jadi ruang edukasi bagi masyarakat dan adik-adik Sekolah, juga jadi tempat pariwisata dan tempat refreshing”ulasnya.
Harapan Bayu adalah sebagaimana Citarum Harum diberikan lahan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi,
“Untuk dijadikan Makonya Sektor 21, kami tata dari Taman Kehati, kamipun mengerjakannya dengan hati, sehingga semuanya bisa tertata, semua atas ijin dari Alloh SWT,” tutur Bayu.
Bayupun mengakomodir apa yang diinginkan oleh Walikota Cimahi, dijadikan taman untuk edukasi bagi masyarakat dan anak sekolahan sebagai generasi muda, dijadikan tempat rekreasi,
“Kedepannya Taman Kehati ini dapat bermanfaat untuk masyarakat, seperti UMKM dapat berjalan, namun seiring waktu semua bertahap kedepannya,”
Program Proklim dan Citarum Harum, menurut Bayu kembali, semua berjalan seiring, “Tidak ada ceritanya yang satu keutara yang satu keselatan, jadi Proklim berjalan, Citarum akan harum, sebab limbah-limbah baik limbah domestik maupun limbah pengusaha industri yang sudah tertata dengan baik akan menjadikan air yang masuk ke Citarum bukan lagi kotoran, atau sampah dan hal yang beracun, tetapi akan menjadikan lestarinya alam lingkungan kita,” tandasnya.
Begitu pula menurut Kepala Bidang Penataan Hukum Lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup, Dadan Subardan, bahwa Proklim merupakan program tahunan, namun tidak semua Kota dan Kabupaten yang mengikuti Proklim tersebut,
“Tapi Alhamdulillah untuk Kota Cimahi tiap tahun mengikuti program ini,”
Bahkan Dadanpun menjelaskan di tahun 2022 Pemkot Cimahi sudah mengajukan dua kelurahan yang mengikuti Proklim,
“Yaitu Kelurahan Pasirkaliki dan Kelurahan Cipageran, di RW 18 Cipageran dan RW 8 Pasirkaliki,” jelasnya.
Untuk RW 18 Cipageran, kata Dadan mendapatkan peringkat Utama tingkat Nasional dalam bidang Program Kampung Iklim,
“Karena masyarakatnya sudah masuk ke adaptasi metigasi, karena Proklim ini disebabkan adanya perubahan iklim, dampaknya adalah banjir, dan hujan yang tidak teratur,” papar Dadan.
Jadi dengan adanya Proklim ini, kata Dadan bagaimana masyarakat menyikapi permasalahan tersebut, jadi adaptasinya masyarakat seperti apa dan metigasinya seperti apa. (T60)












