Ngobrol Pintar Berkualitas’ IMO Indonesia Sumut dengan Jurnalis Senior Asyari Usman

Jawa Barat28 Dilihat

Tantangan Jurnalisme Online di Era Digital : Regulasi, Keberanian Bersuara, dan Integritas Pers

Tutwurihandayani.my.id –  MEDAN : Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Media Online (DPW IMO) Indonesia Sumatra Utara menggelar diskusi bertajuk ‘Ngobrol Pintar Berkualitas’ bersama Asyari Usman jurnalis senior Sumatra Utara yang sudah melanglang buana ke Amerika Serikat dan Inggris di Mie Ayam Jamur Haji Mahmud Jalan Abdulah Lubis Medan, pada Jumat (9/10/2026l).

Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara yang juga pemilik Media Online Penasumut.id didampingi Sekretaris Harun Al Rasyid yang juga pemilik Media Online BBINews.com menyampaikan dalam pertemuan ini, berdiskusi tentang ‘Tantangan Jurnalisme Online Era Digital’ , Media Online dan Integritas Pemberitaan serta ‘Etika Profesionalisme Wartawan’.

Kata Ketua IMO Indonesia Sumut, HA Nuar Erde Asyari Usman adalah wartawan sukses yang bergerak dari seorang translator atau penterjemah di Harian SIB Medan hingga berlanjut ia menjadi wartawan yang tangguh.

“Asyari Usman adalah satu-satunya wartawan dari ASEAN yang berhak mengikuti peliputan acara sidang umum PBB di New York dan kemudian ia berlanjut kerja di BBC London sebagai Kepala Divisi Berita Indonesia. Pengalaman beliau dalam diskusi ini akan menjadi motivasi bagi kita wartawan dan pemilik media DPW IMO Indonesia Sumatera Utara,” jelasnyaAcara dihadiri sejumlah pengurus dan anggota DPW IMO Indonesia Sumatera dan beberapa peserta dari Simpul Relawan Anis serta para Pemilik Media diantaranya, Nurhalim Tanjung Pemred gosujut.com Maskur Abdulah Redpel Waspada Aceh.com, Ansyari Usman. PU Freedom News.com, Azrin Marydha Redpel Medanpos.com, Masri Efendi Siregar SPd pemilik Media Metroonenews.co, Johan Merdeka pemilik DetikKompas.com Hendri L Nainggolan pemilik BicaraNews.com, Bambang S pemilik media Portalberita.com, Rafika pemilik media Laporannusantara.com dan sejumlah pimpinan media online lainnya.

Dalam dialog yang disampaikan Asyari Usman, kita semua berada dalam satu profesi dan memiliki kepentingan yang sama, yakni membangun komunikasi, menyampaikan informasi, serta memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Di antara kita mungkin ada yang berasal dari dunia jurnalistik, jaringan bisnis, aktivis, maupun pernah terlibat dalam pemerintahan.

Hal inilah yang membuat pertemuan kita menjadi menarik. Kita memiliki latar belakang berbeda, tetapi dapat saling berbagi pengalaman dan pemikiran.

Menurut Asyari Usman ketiga tema ini sangat penting untuk dibahas. Namun, ada dua persoalan yang ingin kita fokuskan lebih jauh, yaitu tantangan jurnalisme online dan hubungan media online dengan integritas pemerintahan.

“Untuk persoalan etika dan profesionalisme, saya berharap kita semua, terutama adik-adik yang masih aktif mengelola media, dapat terus menjaga nilai-nilai dasar jurnalistik. Saya mungkin termasuk yang paling tua di ruangan ini. Usia saya sekarang 69 tahun. Karena itu, izinkan saya berbagi pengalaman sekaligus belajar dari pengalaman rekan-rekan semua,” ujarnya.

Dikatakan tantangan nyata pengelola media online sangat banyak. Sejak bangun tidur sampai kembali beristirahat, pengelola media selalu berhadapan dengan berbagai persoalan.

Namun, yang ingin kita diskusikan bukan sekadar banyaknya tantangan, melainkan tantangan paling berat yang benar-benar dihadapi oleh pengelola media online.

Apakah persoalannya terletak pada regulasi pemerintah, keterbatasan anggaran, persaingan antar media, tekanan dari pihak tertentu, akses terhadap informasi, atau persoalan lain.

Kita juga perlu memahami bahwa tantangan media online di Medan belum tentu sama dengan tantangan media di Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, Belanda, Inggris, maupun Amerika Serikat.

Karena itu, saya ingin diskusi ini berjalan secara interaktif. Setiap peserta, khususnya pengelola media online, dapat menyampaikan satu, dua, atau tiga tantangan yang paling sering dihadapi.

Dari situ, kita dapat membandingkan persoalan antar media, mengetahui kemampuan masing-masing dalam mengatasinya, serta mencari solusi yang dapat diterapkan bersama.

Sebab, diskusi ini bukan forum satu arah. Kita berkumpul untuk bertukar pikiran, mendengarkan pengalaman, dan mencari jalan keluar.

Keberanian Menyampaikan Kebenaran

Dalam diskusi tadi, ada peserta yang menyampaikan bahwa dirinya tertarik terhadap dunia media dan pemberitaan, tetapi belum memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.

Ia merasa bahwa menyuarakan persoalan di tengah masyarakat memiliki risiko tersendiri. Hal ini menjadi catatan penting bagi kita semua.

Keberanian menyampaikan kebenaran merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, keberanian tersebut juga harus disertai pengetahuan, pemahaman hukum, verifikasi informasi, serta tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan.

Media harus mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional, tanpa mengabaikan keselamatan, etika, dan ketentuan hukum yang berlaku.

Karena itu, kita perlu mendiskusikan bagaimana membangun keberanian bersuara, melindungi independensi jurnalistik, dan memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar-benar berdasarkan fakta.

Regulasi Pemerintah dan Kebebasan Pers

Asyari Usman juga menyampaikan, persoalan yang dihadapi adalah regulasi pemerintah, termasuk persoalan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan berbagai ketentuan yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik.

Ia berpandangan, bahwa pelaksanaan kegiatan jurnalistik harus mengacu pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, serta memperhatikan kompetensi dan kapasitas seseorang dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Pandangan ini perlu menjadi bahan pembahasan bersama. Kita harus memahami secara tepat perbedaan antara ketentuan undang-undang, standar profesional, mekanisme pengujian kompetensi, dan persyaratan administratif yang mungkin diterapkan oleh instansi tertentu.

Tujuannya bukan untuk mempertentangkan kebebasan pers dengan profesionalisme, melainkan mencari titik temu agar keduanya berjalan beriringan.

Pers yang merdeka harus tetap profesional, sedangkan profesionalisme tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi kebebasan pers secara sewenang-wenang.

Penutup Pengantar Diskusi

Bapak dan Ibu sekalian, dari pembicaraan ini kita dapat melihat bahwa tantangan media online tidak yg hanya berkaitan dengan teknologi dan persaingan bisnis.

Ada pula persoalan regulasi, kompetensi wartawan, keberanian menyampaikan fakta, independensi media, serta hubungan antara pers dan pemerintahan.

Oleh karena itu, saya berharap setiap peserta dapat menyampaikan pengalaman nyata yang pernah dihadapi. Setelah kita mengetahui persoalannya, barulah kita membicarakan solusi yang tepat.

Kita jadikan forum ini sebagai ruang berbagi pengalaman, memperkuat integritas, menjaga etika, dan membangun jurnalisme online yang independen, profesional, serta berpihak pada kepentingan masyarakat. syahdan/nrd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *